TULUNGAGUNG - Menjelang Ramadan, dua lokalisasi di wilayah Kabupaten Tulungagung, yaitu Ngujang dan Lokalisasi Kaliwungu sudah ditutup sejak kemarin. Namun penutupan dua lokalisasi tersebut malah membuat pelacuran liar kian ramai didatangi pengunjung.
Setidaknya itulah yang terjadi di bantaran Sungai Brantas, Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Di lokasi ini berdiri belasan rumah kos yang merangkap sebagai ruang menerima tamu, para pria hidung belang. Di sini pula, puluhan orang PSK biasa menjajakan diri.
Saat didatangi, Selasa (10/8), nampak lima orang PSK sedang mangkal. Mailah (42), salah satu PSK asal Kampak, Kabupaten Trenggalek mengatakan lokalisasi liar ini mulai ramai selepas magrib. Jika siang, para PSK biasanya tidur atau keluar dari rumah kost-nya.
"Habis magrib ke sini saja, pasti ramai dan banyak pilihan," katanya.
Dalam aksinya, para PSK ini menggunakan kedok warung kopi. Di warung ini para PSK ketemu dengan tamu, dan melakukan transaksi. Setelah harga cocok, keduanya lalu melanjutkan acara di dalam kamar kos.
Tutik (40), salah satu PSK asal Pare Kediri mengaku, warungnya kian ramai sejak dua malam belakangan, saat lokalisasi mulai ditutup. Jarak yang tidak seberapa jauh, membuat pelanggan lokalisasi Ngujang disebutnya pindah menjadi konsumennya. Jika biasanya mendapat 3-5 tamu, Tutik menerima bisa dua kali lipatnya.
"Murah kok, cuma 30 ribu sekali main," katanya berpromosi.
Sri (38), satu PSK lainnya dari Blitar, mengaku akan tetap melayani tamu, meski di bulan Ramadan. Sri juga menyebut, tak ada satu pun rekan seprofesinya pulang kampung, atau berhenti melayani tamu. Alasannya, mereka semua butuh biaya untuk merayakan lebaran bersama keluarga.
Baik Sri, Tutik maupun Mailah sadar aktivitasnya melanggar aturan yang berlaku. Mereka beralasan tak punya pilihan lain. Aktivitas menjajakan diri pun dilakukan dengan cara kucing-kucingan dengan Satpol PP.
"Kalau nanti dirazia dan dibubarkan, kami juga akan bubar," kata Sri. [beritajatim.com/mut/inilah]
0 komentar:
Tuliskan Komentar Anda