MANADO - Insiden tewasnya anggota Komisi III DPR dari FPDIP Setya Permana dan istri anggota Komisi III DPR dari FPD Sutjito, Wahyu Nurani di perairan Bunaken, diduga karena pergi diam-diam tanpa sepengetahuan administrasi pelabuhan setempat.
Koordinator Kalimas Pariwisata, Dishub Manado, Jonny Rakian mengungkapkan keberangkatan perahu wisata ke Bunaken tanpa sepengetahuan Dinas Perhubungan Manado. Sebab perahu yang mengangkut anggota DPR tersebut tidak pernah melapor ke Dinas Perhubungan Manado.
"Harusnya mereka melapor sebelum berangkat karena ada pejabat negara yang ikut," tuturnya, di Manado, Sabtu (7/8).
sementara menurut pengemudi kapal pengangkut rombongan anggota Komisi III DPR yang naas di Pantai Manado, Alex Lahengko, mengutarakan kapal yang dikemudikannya kehilangan kendali saat masuk ke mulut pelabuhan Manado.
"Waktu mau belok ke arah pelabuhan ombak menghantam kapal sehingga mesin terangkat dan tak mengenai air. Sehingga kapal dikendalikan arus dan berbalik arah mengenai batu dipinggir pelabuhan tepatnya samping lampu merah pelabuhan," paparnya.
Saat memberi keterangan di depan aparat polisi Airud, Alex mengungkapkan, ketika berangkat dari Manado ke Bunaken sekitar pukul 8.00 Wita kemarin, kondisi cuaca sudah mendung dan agak berangin. Tapi menjelang siang, ombak makin besar.
Seperti diberitakan sebelumnya, kecelakaan terjadi saat kapal wisata yang dipakai rombongan anggota Komisi III DPR dihantam ombak besar yang mengakibatkan kapal hancur berkeping-keping. Dua korban masing-masing anggota DPR RI, Setia Permana dan Wahyu Nurani, istri dari anggota DPR RI Sutjipto.
Korban yang selamat diantaranya Sutjipto dari Fraksi Partai Demokrat, Nudirman Munir dari F Partai Golkar, Muhammad Nurdin dari Fraksi PDIP, Aboe Bakar Al Habsy dari Fraksi PKS, HA Dimyati Natakusumah dari Fraksi PPP, Otong Abdurahman dari Fraksi PKB, dan Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati dari Hanura. [jib/inilah]
0 komentar:
Tuliskan Komentar Anda