LONDON - Enam tahun lalu, Ramires hanyalah seorang pekerja bangunan di Rio de Janeiro, Brasil, dengan penghasilan hanya Rp 420 ribu rupiah per 15 hari kerja. Kini setelah direkrut Chelsea, nasibnya berubah.
Setelah dibeli Chelsea dari Benfica dengan nilai transfer 17 juta pound (Rp 238 miliar), kini ia mendapat bayaran 11 ribu pound (Rp 153 juta) per hari.
Namun pemain yang dulunya tukang semen ini tak malu. Menurutnya, justru masa lalunya di Brasil itulah yang membuatnya bangga.
Selama tujuh bulan, Ramires harus bangun pagi dan bekerja selama sembilan jam di proyek, yang menurutnya menghasilkan karakter yang kuat, yang berguna baginya untuk bersaing di Liga Primer, yang menuntut kekuatan fisik.
“Saya bekerja di proyek saat saya masih muda untuk membantu orang di rumah. Saya tidak malu. Itulah yang menjadikan saya seperti sekarang ini, memberi saya karakter seperti sekarang ini.”
“Saat saya mengingat kembali saat-saat itu, membantu saya tetap sederhana. Saat saya pulang, saya masih mengunjungi teman-teman dan saudara-saudara saya dulu,” terangnya.
”Semua yang saya lakukan adalah demi keluarga saya di rumah, dan itu belum berubah. Semua pengalaman itu, bekerja keras seperti yang saya lakukan dulu, menjadikan saya seperti sekarang ini,” ungkap gelandang Timnas Brasil ini.
“Saat itu usia saya 16 atau 17 tahun. Hari Selasa dan Jumat saya bekerja dari pukul tujuh pagi hingga empat sore karena, setelah itu saya latihan sepak bola. Saya dibayar Rp 420 ribu setiap 15 hari,” urai gelandang berusia 23 tahun itu.
Jika tak ada halangan, Ramires akan melakukan debutnya melawan Stoke City di Stamford Bridge, Sabtu (28/8).
Pemain Chelsea terakhir yang bernasib sama seperti Ramires, menjadi tukang bangunan sebelumnya, adalah Vinnie Jones, yang setelah gantung sepatu beralih profesi menjadi bintang film.(inilah)






0 komentar:
Tuliskan Komentar Anda