JAKARTA - Setelah Menlu Datuk Seri Anifah Aman mengancam Indonesia, kini giliran Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak mengungkapkan kekecewaannya karena lemparan tinja ke Kedubes Malaysia. Tapi, apa duduk perkara sebenarnya?
Perdana Menteri Najib sangat kecewa. Menurutnya, “(melempar tinja ke Kedubes Malaysia) itu salah,” ujar Menlu Anifah mengutip PM Najib usai pertemuan kabinet, kemarin, seperti dilansir kantor berita Bernama.
Dalam pertemuan itu, Anifah yang diwawancari usai menerima delegasi Duta Belia 2010 Indonesia di Wisma Putra itu berkata pemerintahnya sepakat untuk segera memecahkan masalah ini. Ia juga meminta rakyat Malaysia untuk sabar dan rasional, dengan tidak melakukan hal serupa (membalas melempar tinja).
Sehari sebelumnya, Menlu Anifah mengatakan pihaknya meminta Jakarta menangani demo anarkis sebelum Malaysia habis kesabaran. Pernyataan ancaman ini, dalam dunia diplomasi, bisa dikatakan sangat keras.
Kalau perkaranya soal lemparan tinja, itu mudah diselesaikan karena menyangkut tata krama dan etika di Indonesia. Namun duduk perkara sebenarnya justru bukan di sana, melainkan pada jantung masalah perbatasan kedua negara dan soal TKI yang ruwet.
Hubungan Indonesia-Malaysia kembali memanas, diawali penangkapan tiga petugas DKP, kemudian terungkapnya data ancaman hukuman mati terhadap 345 WNI di Malaysia. Juga perselisihan batas wilayah yang tidak kunjung selesai. Soal wilayah negara, RI-Malaysia pernah terjadi konfrontasi sekitar 4 tahun (1962-1966).
Nampaknya, diplomasi intensif harus digenjot belakangan ini untuk meredakan suhu politik kedua negara. Apalagi pemerintah Malaysia sebelumnya jarang mengeluarkan kecaman, apalagi ancaman, terkait ketegangan dengan Indonesia.
Dengan demikian pernyataan Menlu lalu diteruskan dengan pernyataan Perdana Menteri Malaysia bisa ditafsirkan sebagai sinyal kuat untuk Jakarta bahwa Negeri Jiran itu tidak main-main dengan ancamannya. Berdasar catatan Kementerian Dalam Negeri ada 10 masalah perbatasan darat RI-Malaysia yang belum selesai.
Karena itu, dalam menuntaskan kasus Malaysia-Indonesia, perlu ditelisik dari isu pinggiran (tinja), sampai soal kepemimpinan SBY dalam menyelesaikan duduk perkara kedua negara. Sungguh, diperlukan kepemimpinan SBY yang tegas dan decisive dalam mengakhiri ketegangan kedua negara. Semoga. [mdr/inilah]
0 komentar:
Tuliskan Komentar Anda